Halaqah 18: Kapan Seseorang Boleh Beralasan dengan Takdir

Materi HSI pada halaqah ke-18 dari halaqah silsilah ilmiyyah abdullah roy adalah tentang kapan seseorang boleh beralasan dengan takdir.

Takdir dijadikan hujjah dan alasan di dalam musibah dan bencana dan tidak boleh dijadikan hujjah dan alasan di dalam dosa dan kemaksiatan.

Ketika musibah seseorang mengatakan,
“Ini adalah takdir Allah.”
“Ini adalah dengan izin Allah.”
Atau mengatakan, “Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi.”
Maka hal ini akan membawa ketenangan dan kebaikan pada dirinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ)
[QS At-Taghabun 11]

“Tidaklah menimpa sebuah musibah kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan memberikan petunjuk kepada dirinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

”Dan apabila engkau tertimpa musibah maka janganlah engkau mengatakan, seandainya aku melakukan demikian niscaya akan demikian dan demikian, akan tetapi ucapkanlah, ini adalah takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki akan Dia lakukan. Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ ini membuka amalan syaithan.” [HR Muslim]

Namun ketika berbuat maksiat dan dinasihati maka tidak boleh seseorang berhujjah dengan takdir atas maksiat yang dia lakukan kemudian dia mengatakan, “Saya berbuat maksiat karena takdir Allah.” atau mengatakan “Kalau Allah menghendaki niscaya saya tidak berbuat maksiat.” dll.

Orang-orang Musyrikin ketika dahulu didakwahi oleh para Nabi untuk bertauhid mereka menolak dan mereka berhujjah dengan takdir atas kesyirikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
[QS An-Nahl 35]

“Dan berkata orang-orang Musyrikin, ‘Seandainya Allah menghendaki niscaya kami tidak menyembah selain Allah sedikit pun, kami dan bapak-bapak kami, dan niscaya kami tidak mengharamkan sedikit pun.’ Demikianlah orang-orang sebelum mereka melakukan. Maka tidak ada kewajiban atas rasul kecuali menyampaikan dengan jelas.”

Adapun ucapan Nabi Adam ‘alaihissalam yang disebutkan di dalam hadits,

▫️ احتجَّ آدمُ وموسى ، فقالَ لَهُ موسَى : أنتَ آدمُ الَّذي أخرجتكَ خطيئتُكَ منَ الجنَّةِ ؟ فقالَ لَهُ آدمُ : أنتَ موسى الَّذي اصطفاكَ اللَّهُ برسالتِه وبكلامِه ، ثمَّ ، تَلومُني على أمرٍ قُدِّرَ عليَّ قبلَ أن أُخلَقَ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : فحجَّ آدمُ موسَى

“Adam dan Musa saling berhujjah, maka berkata Musa ‘Engkau adalah Adam yang dosamu telah mengeluarkanmu dari surga.’ Berkata Adam, ‘Engkau adalah Musa yang Allah telah memilihmu sebagai seorang Rasul dan memilihmu sebagai manusia yang pernah diajak bicara oleh Allah kemudian engkau mencelaku atas sebuah perkara yang telah ditakdirkan untukku sebelum aku diciptakan.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Adam telah mengalahkan Musa dalam berhujjah.’ Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkannya dua kali.” [HR Al Bukhari dan Muslim]

Maka perlu diketahui bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam di dalam hadits ini tidak berhujjah dengan takdir atas dosa yang beliau lakukan akan tetapi beliau berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpa beliau dan keturunan beliau, yaitu musibah keluarnya beliau dari surga yang efeknya juga dirasakan oleh keturunan beliau ‘alaihissalam.
***
[Disalin dari materi Halakah Silsilah Ilmiah (HSI) Abdullah Roy Bab Beriman Dengan Takdir Allah]
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url