Halaqah 101: Perkataan Abu Aliyyah (Bagian 1)

Halaqah yang ke-101 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Fadhlul Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

Beliau mendatangkan ucapan Abul ‘aliyah

وَقَالَ أَبُو العَالِيَةِ

Berkata Abul ‘aliyah

تَعَلَّمُوا الإِسْلَامَ

Hendaklah kalian mempelajari Islam, yaitu mempelajari Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam baik aqidahnya, akhlak, ibadahnya

فَإِذَا عَلِمْتُمُوهُ فَلَا تَرْغَبُوا عَنْهُ

Dan kalau kalian sudah mempelajari Islam maka janganlah kalian membencinya atau lari darinya, tidak Istiqomah, futur, melenceng dari apa yang sudah dipelajari, kalau kalian sudah belajar maka janganlah kalian membencinya, jangan kalian menjauh darinya, jangan kalian lemah, pelajari dan amalkan

وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ

Dan wajib bagi kalian untuk menempuh jalan yang lurus ini, عَلَيْكُمْ maknanya adalah ilzam atau maknanya adalah wajib bagi kalian untuk menempuh jalan yang lurus ini, apa yang dimaksud jalan yang lurus

فَإِنَّهُ الإِسْلَامُ

karena jalan yang lurus adalah islam ini, yang sedang kalian pelajari ini

وَلَا تُحَرِّفُوا الصِّرَاطَ يَمِينًا وَشِمَالًا

Dan janganlah kalian menyimpang dari jalan yang lurus ini baik ke kiri maupun ke kanan, jangan mengatakan ke kanan lebih baik daripada ke kiri, tidak, lurus. Dan berada di atas jalan yang lurus tidak boleh kita melenceng sedikit pun, tanḥarif maksudnya adalah menyimpang membelok baik ke kanan maupun kekiri, sama saja ke kanan ataupun ke kiri kalau itu keluar dari jalan yang lurus maka tempat kembalinya adalah siksaan dan juga jahanam. Mau ikut aliran apa saja kalau itu di luar الصِّرَاط المُسْتَقِيم maka itu akan membawa kepada jahanam, akan membawa kepada kesesatan.

Yakinlah bahwasanya jalan satu-satunya yang menyampaikan kita kepada tujuan yaitu kepada surga, kepada Allah subhanahu wata'ala adalah jalan yang lurus ini, adapun jalan yang lain bagaimanapun dia dihiasi dengan lampu, dihiasi dengan nama-nama yang indah, dihiasi dengan kegiatan-kegiatan yang wah, dihiasi dengan banyaknya harta mereka, yakinlah bahwa itu tidak akan menyampaikan kepada Allah subhanahu wata'ala, jangan tertipu, jalan inilah yang akan menyampaikan kita kepada Allah subhanahu wata'ala

وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ

Dan wajib bagi kalian untuk memegang sunnah Nabi kalian, tadi mengatakan Islam sekarang berbicara tentang sunnah menunjukkan bahwasanya Islam itu ya sunnah dan menunjukkan bahwasanya sirathul mustaqīm itu adalah islam dan sirathul mustaqīm dia adalah sunnah, makanya tadi beliau mengatakan

وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ المُسْتَقِيمِ، فَإِنَّهُ الإِسْلَامُ

Berarti sirathul mustaqīm itu adalah Islam. Kemudian beliau mengatakan

وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ

Berarti Islam ya sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Islam itu ya jalannya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berarti baik sirathul mustaqīm Islam maupun sunnah maknanya sama

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

Dan hati-hati kalian dengan hawa nafsu-hawa nafsu ini. Hawa nafsu ini berarti bertentangan dengan Islam, masuk di dalamnya adalah bid’ah karena bid’ah ini adalah bagian dari hawa nafsu, karena harusnya Islam yaitu manut kepada Allah subhanahu wata'ala, ketika seseorang melakukan bid’ah berarti dia mengikuti hawa nafsunya, makanya digandengkan terus antara bid’ah dengan nama nafsu, ahlul bid’ah wal ahwa, mereka itu adalah ahli dalam masalah bid’ah dan mereka adalah ahli dalam masalah hawa nafsu, mengikuti hawa nafsu bukan mengikuti wahyu

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

Dan hati-hati kalian dengan hawa nafsu ini, menunjukkan bahwasanya hawa nafsu ini bertentangan dengan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Ucapan Abul ‘aliyah ini dikeluarkan oleh diantaranya oleh Abdur Rozzaq di dalam mushannah beliau, selain oleh Abdur Rozzaq maka ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Bathoh didalam kitab beliau Al-Ibanah Al-Qubroh, juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Aulia.

Kemudian beliau mengucapkan sebuah ucapan dan ini mungkin kali yang ketiga kita menemukan ucapan penulis di dalam kitab ini, jarang sekali beliau mengucapkan ucapan dari diri beliau tapi kebanyakan adalah Al-Quran dan hadits dengan ucapan para salaf.
Kemudian Syaikh mengatakan

تَأَمَّلْ كَلَامَ أَبِي العَالِيَةِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى هَذَا، مَا أَجَلَّهُ

Perhatikanlah, dan ini sepertinya dalam dua ucapan beliau sebelumnya juga mengatakan تَأَمَّلْ dan seterusnya, beliau mengajak kita untuk jangan hanya melewati ucapan para salaf murūron kiroman, melewati ucapan-ucapan para salaf dengan begitu saja, mereka kalau berbicara berbicara di atas ilmu, ini sedikit tapi berdasarkan ilmu, maka beliau mengatakan perhatikanlah ucapan Abul ‘aliyah

هَذَا، مَا أَجَلَّهُ

Bagaimana besarnya dan berharganya ucapan ini

وَأَعْرَفَ زَمَانَهُ الَّذِي يُحَذِّرُ فِيهِ مِنَ الأَهْوَاءِ

Dan ketahuilah zaman beliau, zaman dimana saat itu beliau mentahdzir dari hawa nafsu, ketika beliau mengatakan

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

hati-hati kalian dengan ahwa’ ini, هَذِهِ menunjukkan bahwa di zaman beliau sudah ada, sudah banyak hawa nafsu-hawa nafsu.

الَّتِي مَنِ اتَّبَعَهَا؛ فَقَدْ رَغِبَ عَنِ الإِسْلَامِ

Yang barangsiapa yang mengikuti hawa nafsu tadi maka sungguh dia telah membenci Islam atau menjauhi dari Islam, dan sudah kita sampaikan bahwasanya orang yang mengikuti bid’ah tadi berarti dia sudah lama kelamaan akan membenci Islam itu sendiri, ketika dia melakukan bid’ah berarti dia membenci sunnah yang bertentangan dengan bid’ah tadi dan seterusnya dipupuk akhirnya dia membenci Islam itu sendiri.

الَّتِي مَنِ اتَّبَعَهَا؛ فَقَدْ رَغِبَ عَنِ الإِسْلَامِ

Beliau telah mentahdzir dari yang demikian. Kenapa belum mentahdzir dari hawa nafsu-hawa nafsu ini? Apa hubungannya dengan Islam? Karena mengikuti hawa nafsu ini, mengikuti bid’ah akan menjadikan dia membenci Islam, akhirnya keluar dari agama Islam, akhirnya keluar dari jalan yang lurus. Sehingga beliau mengatakan تَأَمَّلْ, perhatikan ucapan ini, kenapa beliau di akhir mengatakan

وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ

hati-hati kalian dengan hawa nafsu ini padahal sebelumnya menjelaskan tentang, harus mengikuti Islam, harus mengikuti sunnah, jangan kalian berpaling dari jalan yang lurus baik ke kanan maupun ke kiri. Apa hubungannya? Karena hawa nafsu ini kalau diikuti akan menjauhkan kita dari Islam.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Fadhlul Islam]
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url