Halaqah 121: Pembahasan Dalil Pertama Hadits Irbadh (Bagian 7)

Halaqah yang ke-121 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Fadhlul Islam yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

Beliau mengatakan (Rahimahullahu Ta’ala)

بَابُ التَّحْذِيرِ مِنَ البِدَعِ

Bab tahdzir, peringatan, dari bid’ah-bid’ah.

‘Irbad ibn Sariyah mengatakan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah memberikan مَوْعِظَة kepada kami, Nabi shalallahu 'alaihi wasallam memberikan wasiat

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku

وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ

sunnah para khulafa’ yang mereka disifati, yang pertama rasyidīn maksudnya adalah orang yang berilmu lurus dengan sebab ilmu yang mereka miliki, kemudian al-mahdiyyīn mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Ilmu yang mereka miliki mengantarkan mereka untuk mengamalkan, oleh karena itu khulafa’ ar rasyidīn al-mahdiyyīn terkumpul di dalam diri mereka ilmu dan juga amalan dan ini adalah sesuatu yang jarang. Jarang seorang pemimpin dia sekaligus sebagai seorang yang ‘alim dan sekaligus dia adalah seorang yang ‘amil ini adalah perkara yang jarang, biasanya seorang pemimpin sibuk dengan dunianya, tidak memiliki ilmu atau memiliki ilmu sedikit, mengamalkan juga seadanya, sibuk dengan urusan dunianya.

Tapi kalau seorang pemimpin sampai terkumpul di dalamnya ilmu yang luar biasa dan juga mereka adalah orang yang sangat mengamalkan ilmunya maka inilah orang-orang yang pilihan, dan demikian sifat para khulafa’ur rasyidīn al-mahdiyyīn, mereka adalah Abu bakar, Umar, Utsman, dan juga Ali. Kalau kita kembali kepada sirah mereka kita, dapatkan tentang ilmu mereka yang dalam di dalam masalah agama dan amal juga demikian.

Maka kita disuruh untuk berpegang teguh dengan sunnah mereka, sunnah mereka adalah supaya kita berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Itulah jalan hidup para khulafa’ur rasyidīn, jalan hidup mereka adalah bagaimana mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Jangan dipahami bahwasanya mereka punya sunnah sendiri selain dari sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, bahkan sunnah mereka adalah bagaimana mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Kemudian Beliau shalallahu 'alaihi wasallam mengatakan sama aku lihatlah

تَمَسَّكُوا بِهَا

Hendaklah kalian berpegang teguh dengannya, تَمَسَّك yaitu dengan tangan kalian

وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

dan gigitlah sunnahku tadi dengan gigi geraham kalian. تَمَسَّكُوا kita disuruh untuk memegang, tidak melepaskannya, ditambah lagi lebih menguatkan bukan hanya sekedar dipegang tapi juga digigit dan digigitnya bukan dengan sembarang giginya tapi dengan gigi geraham.

Maka ini adalah penguatan setelah penguatan, disuruh kita untuk berpegang teguh dengan sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan ini adalah bisa kita pahami dari perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah, peringatan dari melakukan bid’ah. Kita harus pegang, kita harus gigit jangan sampai kita berpaling kemudian kita lepaskan dan lebih kita memilih melakukan bid’ah di dalam agama, kita harus kuat didalam memegang sunnah ini.

Kemudian yang kedua

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

dan hati-hati kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, dan kalimat wa iyyakum maknanya adalah tahdzir, hati-hati, menunjukkan bahwasanya perkara yang setelahnya adalah perkara yang jelek yang bisa membahayakan kita, sehingga Nabi shalallahu 'alaihi wasallam mengatakan wa iyyakum, hati-hati kalian, waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, yaitu perkara yang baru, tidak ada di dalam sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wasallam itu namanya مُحْدَثَات

Disana ada agama Islam yang dibawa oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, disana ada perkara yang baru yang datang setelah agama Islam tadi, dinamakan dengan مُحْدَثَات الأُمُور. Beliau shalallahu 'alaihi wasallam mengatakan wa iyyakum, hati-hati, ini adalah segi yang kedua menunjukkan tentang tahdzir dari bid’ah, peringatan dari bid’ah itu sendiri.

فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Karena sesungguhnya setiap sesuatu yang baru, yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tidak dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin maka itu dinamakan dengan bid’ah, segala sesuatu yang baru yang tidak diajarkan oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan juga para sahabatnya khususnya para Khulafaur Rasyidin maka itu dinamakan dengan bid’ah

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

dan setiap bid’ah maka itu adalah sesat dan di dalam riwayat yang lain wa kulla dholalatin finnar dan setiap yang sesat itu tempat kembalinya di neraka, tentunya ini adalah juga tahdzir dari bid’ah.

Segi yang ketiga karena Nabi shalallahu 'alaihi wasallam mensifati bid’ah ini adalah sebuah kesesatan, berarti dari tiga sisi, minimal pertama dari sabda Beliau shalallahu 'alaihi wasallam

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي

kemudian yang kedua adalah dari ucapan Beliau shalallahu 'alaihi wasallam

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ

kemudian dari ucapan Beliau shalallahu 'alaihi wasallam

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

semuanya adalah ta’kid diatas ta’kid, penguatan dan penguatan selanjutnya tentang peringatan dari bid’ah, dan mungkin saja bisa dimasukkan di dalam kalimat

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ

hendaklah kalian bertakwa kepada Allah Subhanahu wata'ala, masuk di dalamnya adalah menjauhi bid’ah.

Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi

وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

dan di sana ada imam-imam yang lain juga yang meriwayatkan hadits ini, dan termasuk diantaranya adalah Abu Daud, Tirmidzi dan juga Ibnu Majah.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Fadhlul Islam]
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url