Halaqah 91: Dalil yang Menunjukkan Bahwa Allah Akan Dilihat Kelak di Akhirat (Bagian 3)

Posting Komentar
Halaqah yang ke-91 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah mereka meyakini bahwasanya Allah subhanahu wata'ala Dia akan dilihat oleh orang-orang yang beriman di dalam surga, Allah subhanahu wata'ala akan menjadikan mereka mampu untuk melihat Allah subhanahu wata'ala di dalam surga.

Disana ada kelompok yang berlebihan mengatakan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala dilihat di dunia dan juga di akhirat, jadi di dunia bisa dilihat, ini adalah keyakinan orang-orang sufi yang mereka mengaku bahwasanya mereka melihat Allah subhanahu wata'ala di dunia. Jadi di sana ada orang yang berlebihan Allah subhanahu wata'ala dilihat di dunia dan akhirat dan ada yang mengatakan Allah subhanahu wata'ala tidak dilihat di dunia dan tidak dilihat di akhirat yaitu orang-orang mu’tazilah, dan Ahlussunnah mengatakan Allah subhanahu wata'ala tidak dilihat di dunia dan kelak akan dilihat di akhirat, tidak dilihat di dunia bahkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sekalipun tidak melihat Allah subhanahu wata'ala di dunia.

Dan para sahabat telah berselisih pendapat tentang permasalahan ini apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat Allah subhanahu wata'ala di dunia, ada yang mengatakan melihat Allah subhanahu wata'ala di dunia yaitu ketika di mi’raj kan dan ada yang mengatakan tidak melihat bahkan ketika di mi’raj kan, dan pendapat yang lebih yang lebih kuat bahwasanya Beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak melihat Allah subhanahu wata'ala di dunia karena ketika Beliau shallallahu 'alaihi wasallam ditanya oleh sebagian sahabat

هل رأيت ربك

Apakah engkau melihat Rabb mu, yaitu ketika di mi’raj kan, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan

نور أنى أراه

di sana ada cahaya, karena hijab Allah subhanahu wata'ala adalah cahaya, bagaimana aku bisa melihat-Nya, menunjukkan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak melihat Allah subhanahu wata'ala di dunia. Jadi ini pendapat Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Allah subhanahu wata'ala tidak dilihat di dunia bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak melihat-Nya, nabi Musa juga tidak melihatnya tapi Allah subhanahu wata'ala akan dilihat oleh orang-orang yang beriman kelak di akhirat yaitu di dalam surga nya Allah subhanahu wata'ala.

Kemudian setelahnya beliau mengatakan

وَهَذَا الْبَابُ فِي كِتَابِ اللهِ كَثِيرٌ

Dan bab ini, yaitu tentang masalah penyebutan nama dan juga sifat Allah subhanahu wata'ala di dalam Al-Qur’an itu banyak sekali dan sudah kita sampaikan setiap halaman di dalam Al-Qur’an ada di situ nama atau sifat Allah subhanahu wata'ala sehingga kalau mau disebutkan tidak cukup beberapa lembar dari sebuah kitab karena hampir semua dan setiap halaman di dalam Al-Qur’an itu disebutkan sifat-sifat Allah subhanahu wata'ala

مَنْ تَدَبَّرَ الْقُرْآنَ طَالِبًا لِلْهُدَى مِنْهُ؛ تَبَيَّنَ لَهُ طَرُيقُ الْحَقِّ

Barangsiapa yang mentadaburi Al-Qur’an yaitu merenungi apa yang dapat di dalam Al-Qur’an dengan niat untuk mencari petunjuk maka akan jelas baginya jalan kebenaran.

Disini beliau mengisyaratkan tentang sebuah isyarat yang penting sekali, bagaimana seseorang bisa mengambil faedah dari apa yang dia baca dari Al-Qur’an, kalau kita ingin mengambil faedah dan mengambil manfaat dari Al-Qur’an maka hendaklah kita mentadaburi Al-Qur’an, artinya kita memahami maknanya mungkin kita membaca tafsirnya kemudian kita merenungi berusaha untuk memahami, kalau demikian berarti akibatnya apa kalau demikian berarti apa yang bisa saya pahami.

Maka orang yang mentadaburi Al-Qur’an yaitu dengan konsentrasi, dia di dalam niatnya ingin mencari hidayah ingin dapatkan petunjuk ingin keluar dari kegelapan menuju alam yang terang benderang, niatnya adalah ingin mencari hidayah bukan ingin mencari-cari kesalahan Al-Qur’an atau ingin mencari-cari kelemahan Al-Qur’an tapi keinginannya adalah ingin petunjuk. Kalau dia bisa memenuhi dua syarat ini, mentadaburi Al-Qur’an dan niat dia adalah untuk mencari petunjuk

تَبَيَّنَ لَهُ طَرُيقُ الْحَقِّ

Maka akan jelas baginya jalan kebenaran, Allah subhanahu wata'ala akan memberikan hidayah kepada seseorang yang mau mentadaburi Al-Qur’an dan dia niatnya adalah ingin mencari petunjuk. Dan ini sudah banyak orang-orang yang sekarang dia mendapatkan hidayah kepada tauhid kepada sunnah, kalau mereka bercerita apa dan bagaimana mereka bisa mendapatkan hidayah kita akan mendengar banyak dari mereka bahwasanya dulunya memang ingin kebenaran.

Ada sebagian mereka menceritakan, saya tahu bahwa saya ini bukan diatas jalan yang benar, ada sesuatu yang salah pada kehidupan saya, pasti di sana ada kebenaran yang belum saya tahu, di dalam hatinya ingin mendapatkan petunjuk dari Allah subhanahu wata'ala, maka orang yang demikian dan dia benar-benar ingin petunjuk bukan karena ingin hawa nafsu, dia siap menyerahkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala, apa pun yang terjadi dia ingin menyerahkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala maka orang yang demikian akan dimudahkan untuk mendapatkan jalan yang benar. Apa yang ada dalam Al-Qur’an bisa kita mendapatkan faedah dan mendapatkan manfaat kalau memang kita mentadaburi Al-Qur’an dan keinginan kita ingin mendapatkan petunjuk. Wallahu A’lam.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Premium By Sanwitana With Halaqah

Related Posts

Posting Komentar