Halaqah 106: Sikap Pertengahan AhlusSunnah Wal Jama’ah dalam Bab Sifat, Perbuatan, dan Ancaman Allah

Halaqah yang ke-106 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Beliau mengatakan

فَهُمْ وَسَطٌ فِي بَابِ صِفَاتِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Maka mereka ini (ahlussunnah wal jama’ah) pertengahan di dalam bab sifat Allah subhanahu wata'ala

Karena Syaikhul Islam di awal-awal ini sedang berbicara tentang sifat Allah subhanahu wata'ala sehingga didahulukan disini, dijelaskan bahwasanya kita didalam masalah sifat Allah subhanahu wata'ala ini pertengahan antara dua aliran

فِي بَابِ صِفَاتِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَيْنَ أهْلِ التَّعْطِيلِ الْجَهْمِيَّةِ، وَأَهْلِ التَّمْثِيلِ الْمُشَبِّهَة؛ِ

maka mereka berada di pertengahan antara dua aliran ini, yang pertama adalah ahlu ta’thil, at-ta’thil artinya adalah menafikan mengosongkan, wa bi’ri mu’athola (dan sumur yang mu’athola maksudnya adalah sumur yang kosong sudah dipakai orang), yang mereka adalah al-jahmiyyah, aliran yang menisbahkan diri mereka kepada Jahm Ibn Shafwan yang mengatakan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala tidak memiliki nama dan juga tidak memiliki sifat berarti mereka mengingkari sehingga mereka masuk di dalam mu’athila (orang-orang yang mengingkari), Allah subhanahu wata'ala tidak memiliki nama dan tidak memiliki sifat, seluruh sifat diingkari seluruh nama diingkari, sifat Rahmah kemudian juga sifat Mahabbah sifat Kalam dan sifat-sifat yang lain, menganggap bahwa seorang yang menetapkan sifat-sifat tadi berarti dia telah menyerupakan Allah subhanahu wata'ala dengan makhluk-Nya

وَأَهْلِ التَّمْثِيلِ الْمُشَبِّهَ

dan antara ahlu tamtsil (orang-orang yang mendatangkan permisalan bagi Allah subhanahu wata'ala padahal Allah subhanahu wata'ala tidak ada yang semisal dengan-Nya)

Kalau ahlu ta’thil mereka menolak adapun ahlu tamtsil menerima tapi berlebihan, menerima dan mereka menyerupakan Allah subhanahu wata'ala dengan makhluk, Allah subhanahu wata'ala Dia punya tangan dan tangan Allah subhanahu wata'ala sama dengan tangan kita, di sini berlebihan. Adapun ahlu ta’thil mereka menolak, menganggap bahwasanya menetapkan berarti menyerupakan Allah subhanahu wata'ala dengan makhluk dan menyerupakan Allah subhanahu wata'ala dengan makhluk tidak boleh.

Ahlussunnah Wal Jama’ah mereka menetapkan tapi mereka tidak menyerupakan, menetapkan sifat-sifat Allah subhanahu wata'ala dan meyakini sifat Allah subhanahu wata'ala tidak sama dengan sifat makhluk tapi sesuai dengan keagungan-Nya sehingga di sini Ahlussunnah Wal Jama’ah berada di pertengahan antara dua aliran ini.

وَهُمْ وَسَطٌ فِي بَابِ أَفْعَالِ اللهِ بَيْنَ الْجَبْرِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ

Dan mereka adalah pertengahan di dalam masalah pekerjaan-pekerjaan/amalan-amalan Allah subhanahu wata'ala antara orang-orang qadariyyah dan orang-orang jabriyyah.

Qadariyyah mengatakan bahwasanya apa yang dilakukan oleh makhluk tidak ada campur tangan dari Allah subhanahu wata'ala, Allah subhanahu wata'ala tidak menciptakan pekerjaan kita atau amalan kita dan bukan Allah subhanahu wata'ala yang menghendaki, berarti di sini mereka mengingkari campur tangan Allah subhanahu wata'ala di dalam pekerjaan-pekerjaan mereka dan amalan-amalan mereka baik yang berupa ketaatan maupun kemaksiatan, berlebihan di dalam menetapkan af’al hamba kemudian mereka mengingkari af’al Allah subhanahu wata'ala, Allah subhanahu wata'ala tidak ada campur tangan dengan af’al kita, kita yang menciptakan pekerjaan-pekerjaan kita sendiri bukan Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan perbuatan kita bukan Allah subhanahu wata'ala yang menghendaki perbuatan kita tapi kita yang menghendaki dan kita yang menciptakan amalan-amalan kita, berarti di sini menafikan af’al Allah subhanahu wata'ala dan campur tangan Allah subhanahu wata'ala terhadap af’al mereka.

Adapun al-jabriyyah maka mereka menetapkan dan mengimani af’alullah tapi mereka berlebihan sampai mereka mengatakan bahwasanya yang kita lakukan yang melakukan adalah Allah subhanahu wata'ala, yaitu manusia ini tidak punya qudrah dan gerakan kita ini seperti wayang yang digerakkan oleh dalangnya atau seperti pohon yang ditiup oleh angin, dan kita tidak punya kehendak kita tidak punya qudrah tidak punya iradah sehingga sebagian mereka mengatakan bahwasanya yang shalat itu Allah subhanahu wata'ala karena Allah subhanahu wata'ala yang menghendaki Allah subhanahu wata'ala yang memberikan kita qudrah, berarti di sini berlebihan di dalam menetapkan af’alullah. Qadariyyah mereka menafikan dan mengatakan yang mencipta adalah diri kita sendiri adapun al-jabriyyah maka mereka mengatakan bahwasanya Allah subhanahu wata'ala yang memaksa kita dan yang melakukan ini adalah Allah subhanahu wata'ala sendiri, ini berlebihan di dalam masalah af’alullah.

Adapun Ahlus Sunnah Wal Jama’ah maka mereka meyakini bahwasanya Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan kita dan menciptakan irodah kita dan memberikan kepada kita qudrah dan yang melakukan adalah kita sendiri, dan mereka meyakini bahwasanya Allah subhanahu wata'ala Dia-lah yang menciptakan kita dan apa yang kita lakukan dan yang melakukan pekerjaan-pekerjaan tadi adalah kita dan bukan Allah subhanahu wata'ala, Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan pekerjaan tadi tapi fa’ilnya adalah kita.

Ucapan mereka bahwasanya Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan bantahan kepada orang-orang qodariyyah yang mereka mengatakan kita yang menciptakan amalan kita sendiri, sehingga Ahlus Sunnah mengatakan Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan bukan kita yang menciptakan. Kemudian yang kedua ucapan mereka bahwasanya kita yang melakukan bantahan kepada orang-orang jabriyyah karena mereka meyakini bahwasanya yang melakukan perbuatan ini adalah Allah subhanahu wata'ala, yang shalat yang puasa yang bergerak yang berjalan ini adalah Allah subhanahu wata'ala.

Allah subhanahu wata'ala memberikan taufik kepada Ahlus Sunnah untuk berada di pertengahan, mereka meyakini Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan kita dan juga perbuatan kita dan yang melakukan adalah kita sendiri bukan Allah subhanahu wata'ala, dalilnya adalah Firman Allah subhanahu wata'ala

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ٩٦
[Ash-Shaffat]

dan Allah subhanahu wata'ala Dia-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan

Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan baik ketaatan maupun kemaksiatan, dan pekerjaan kita masuk dalam Firman Allah subhanahu wata'ala

ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ
[Az-Zumar-62]

Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan segala sesuatu, dan masuk dalam Firman Allah subhanahu wata'ala

وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖ
[Al-Furqan:2]

dan menciptakan segala sesuatu

Maka apa yang kita lakukan ini masuk dalam sesuatu tadi maka dia termasuk ciptaan Allah subhanahu wata'ala

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ

dan apa yang kalian kerjakan, berarti apa yang kita kerjakan yang menciptakan adalah Allah subhanahu wata'ala.

Dan ini juga bantahan kepada orang-orang jabriyyah karena disini Allah subhanahu wata'ala mengatakan وَمَا تَعۡمَلُونَ dan apa yang kalian amalkan, berarti yang mengamalkan adalah makhluk, yang shalat kita yang puasa kita yang berjalan kekanan kekiri adalah kita, yang menciptakan adalah Allah subhanahu wata'ala, Allah subhanahu wata'ala yang menciptakan perbuatan tadi tapi fa’ilnya adalah kita sendiri, Allah subhanahu wata'ala memberikan kepada kita irodah memberikan kepada kita qudroh sehingga Allah subhanahu wata'ala mengatakan

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ
[At-Taghabun:16]

Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala sesuai dengan kemampuan kalian, berarti kita punya kemampuan dan Allah subhanahu wata'ala mengatakan

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ

Allah subhanahu wata'ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya
[Al-Baqarah-286]

berarti kita punya kemampuan, dan kita diberikan iradah oleh Allah subhanahu wata'ala, diberikan kita masyi’ah, Allah subhanahu wata'ala mengatakan

وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢٩
[At-Takwir]

dan tidaklah kalian berkehendak kecuali apa yang Allah subhanahu wata'ala kehendaki, berarti di sini Allah subhanahu wata'ala menetapkan masyi’ah bagi kita dan disini ditetapkan masyi’atullah dan menunjukkan bahwasanya masyi’ah kita itu di bawah masyi’ah Allah subhanahu wata'ala. Kemudian

وَفِي بَابِ وَعِيدِ اللهِ بَيْنَ الْمُرْجِئَةِ وَ الْوَعِيدِيَّةِ مِنَ الْقَدَرِيَّةِ وَغِيْرِهِمْ

Dan di dalam masalah ancaman Allah subhanahu wata'ala (di akhirat, yaitu ancaman Allah subhanahu wata'ala bagi orang yang melakukan dosa besar, apakah mereka di neraka atau mereka berada di surga, mereka mendapatkan nikmat atau mereka mendapatkan azab) maka mereka berada diantara orang-orang murji’ah dan al-wa’idiyyah dari qadariyyah dan selainnya.

Tentang orang yang melakukan dosa besar murji’ah mengatakan bahwa mereka didalam surga tidak di adzab, dosa besar yang mereka lakukan tidak memudharati keimanan mereka sehingga mereka tidak akan diadzab. Murji’ah ini berasal dari kata irja’ yang artinya adalah mengakhirkan, dinamakan demikian karena mereka mengakhirkan amalan dari iman, mengeluarkan amalan dari iman, amal bukan termasuk iman, iman itu yang penting ada dalam hati, ada yang mengatakan iman itu yang penting yang diucapkan saja, ada yang mengatakan iman itu yang dilisan dan di hati saja, amalan bukan termasuk iman, ini murji’ah.

Sehingga ketika seseorang melakukan dosa besar tidak memudharati, tidak akan memudharati kemaksiatan kalau kita ada iman sebagaimana ketaatan tidak akan bermanfaat kalau kita melakukan kekufuran, sehingga orang-orang murji’ah mereka berpendapat demikian yaitu bahwasanya pelaku dosa besar mereka masuk ke dalam surga dan tidak diancam dengan neraka karena dosa besar yang mereka lakukan tidak memudharati keimanan mereka sedikitpun, ini keyakinan al-murji’ah.

وَبَيْنَ الْوَعِيدِيَّةِ

Dan antara orang-orang wa’idiyyah (nisbah kepada wa’id), aliran yang terus yang mereka pikirkan adalah ancaman, yang ada pada diri mereka adalah takut-takut dan takut terhadap ancaman sehingga mereka dinamakan dengan al-wa’idiyyah, yang dibicarakan tentang wa’id terus, dan ini adalah bid’ah yang dzahir pada diri mereka.

Dinamakan dengan demikian karena mereka berlebih-lebihan di dalam masalah ancaman, mengatakan bahwasanya pelaku dosa besar kekal didalam neraka, lihat bagaimana bertolak belakangnya antara wa’idiyyah dengan murji’ah, kalau wa’idiyyah mengatakan pelaku dosa besar di dalam neraka bahkan kekal didalam neraka selama-lamanya, adapun murji’ah mengatakan tidak memudharati tidak mengurangi sedikitpun iman seseorang sehingga dia masuk surga dan tidak akan masuk ke dalam neraka.

مِنَ الْقَدَرِيَّةِ

Dari kalangan qadariyyah, orang-orang qadariyyah mereka meyakini bahwasanya orang yang melakukan dosa besar ini kekal di dalam neraka, di dalam masalah wa’id tentang pelaku dosa besar maka ini keyakinan mereka. Dan mu’tazilah (dan khawarij) termasuk wa’idiyyah, mereka mengatakan bahwasanya pelaku dosa besar di akhirat kekal di dalam neraka, dan orang-orang mu’tazilah di dalam masalah Qadar mereka adalah qadariyyah, kemudian orang-orang mu’tazilah dalam masalah sikap terhadap penguasa kaum muslimin sama dengan orang-orang khawarij yaitu menghalalkan untuk memberontak kepada penguasa yang dzhalim dan ini adalah salah satu diantara pokok yang lima yang yang disepakati oleh orang-orang mu’tazilah, ini adalah akidah mereka yang tercantum dalam usulul khamsah

وَغِيْرِهِمْ

dan selain mereka, yaitu yang sama pemahamannya di dalam masalah wa’id, ini keyakinan murji’ah dan wa’idiyyah.

Keyakinan Ahlussunnah berada di pertengahan, murji’ah kata mereka pelaku dosa besar masuk ke dalam surga dan tidak memudharati dia dosa besar yang dilakukan, wa’idiyyah mengatakan masuk ke dalam neraka kekal selamanya, ahlussunnah mengatakan karena ini berdasarkan dalil bahwasanya pelaku dosa besar taḥta masyi’atillah (dibawah kehendak Allah subhanahu wata'ala) kalau Allah subhanahu wata'ala menginginkan maka Allah subhanahu wata'ala mengampuni dosa orang tersebut artinya tidak diadzab, kalau Allah subhanahu wata'ala menghendaki maka Allah subhanahu wata'ala akan mengadzabnya.

Ini bertentangan dengan orang-orang murji’ah yang mengatakan tidak akan diadzab, Ahlussunnah mengatakan kalau Allah subhanahu wata'ala menghendaki maka Allah subhanahu wata'ala akan mengadzabnya, ini berarti berlawanan dengan orang-orang murji’ah, dan yang pertama tadi kalau Allah subhanahu wata'ala menghendaki maka Allah subhanahu wata'ala akan mengampuninya berlawanan dengan ucapan orang-orang khawarij yang mereka mengatakan tidak ada ampun bagi pelaku dosa besar mereka kekal selamanya didalam neraka.

Seandainya dia dikehendaki oleh Allah subhanahu wata'ala untuk diadzab dan tidak diampuni oleh Allah subhanahu wata'ala maka mereka tidak akan kekal selamanya di dalam neraka, akan diadzab sesuai dengan kehendak Allah subhanahu wata'ala dan tempat akhir mereka adalah di dalam surga, ini keyakinan Ahlussunnah. Tidak berlebihan seperti orang-orang murji’ah yang mengatakan tidak akan masuk kedalam neraka dan tidak berlebih-lebihan seperti wa’idiyah yang mengatakan tidak akan masuk ke dalam surga, tapi mereka yaitu pelaku dosa besar di bawah kehendak Allah subhanahu wata'ala, karena Allah subhanahu wata'ala mengatakan

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ
[An-Nisa’:48]

Allah subhanahu wata'ala masih mengampuni yang di bawah itu (kesyirikan) tapi bagi orang yang Allah subhanahu wata'ala kehendaki, berarti ada diantara mereka yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata'ala diampuni sehingga tidak diadzab dengan sebab dosa tadi dan ada diantara mereka yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata'ala untuk diadzab terlebih dahulu, dan nanti tempat kembalinya adalah surga sebagaimana diterangkan dalam hadits-hadits yang banyak tentang syafa’at Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada pelaku dosa besar diantara umat Beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana sabda Beliau shallallahu 'alaihi wasallam

شَفَاعَتِيْ لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِيْ

syafa’atku adalah untuk yang melakukan dosa besar diantara umatku, dan juga hadits yang lain dimana Allah subhanahu wata'ala mengizinkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengecek di dalam neraka siapa diantara mereka yang memiliki keimanan dengan besar tertentu untuk dikeluarkan, kemudian akhirnya mereka yang sebelumnya disuruh untuk mengeluarkan orang yang mereka kenal mereka mencari melihat yang mereka kenal akhirnya diizinkan untuk dikeluarkan kemudian mereka diberikan izin lagi untuk mengeluarkan yang memiliki keimanan sebesar demikian kemudian mereka keluarkan dan seterusnya ini menunjukkan bahwasanya pelaku dosa besar kelak akan dikeluarkan oleh Allah subhanahu wata'ala dari neraka dan dimasukkan Allah subhanahu wata'ala ke dalam surga.

Maka hadits-hadits tentang syafa’at ini juga bantahan terhadap dua kelompok sekaligus, murji’ah karena adanya syafa’at menunjukkan bahwasanya mereka bisa masuk ke dalam neraka kemudian mendapatkan syafa’at dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atau syafa’at dari malaikat, berbeda dengan orang-orang murji’ah yang mengatakan kalau mereka masuk surga tidak perlu ada syafa’at untuk keluar dari neraka menuju surga. Dan sekaligus ini bantahan bagi orang-orang khawarij yang mereka mengatakan kekal sementara Ahlussunnah seandainya diadzab dalam neraka maka mungkin keluar dengan sebab syafa’at atau keluar dengan rahmat dari Allah subhanahu wata'ala.

Lihat bagaimana Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mereka berada di pertengahan karena mereka berpegang dengan dalil, kalau kita berpegangan dengan Islam berpegang dengan dalil dengan sunnah maka kita akan berada di pertengahan.
***
[Disalin dari materi Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy bab Kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah]
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url