Halaqah 14: Allah Qadimun Bila Ibtidiain Daimun Bila Intihain
Halaqah yang ke-14 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang Allah Qadimun Bila Ibtidiain Daimun Bila Intihain.
Beliau mengatakan setelah menyebutkan tentang akidah ahlussunnah yang paling besar yaitu Tauhid dan sudah kita ketahui bahwa masuk didalam tauhid, tauhidullah fi asma wa sifat mengesahkan Allah di dalam nama dan juga sifatNya. Maka beliau rahimahullah setelah menyebutkan secara global tiga jenis Tauhid beliau akan memperinci diantara tiga jenis Tauhid tadi dan yang paling banyak beliau perincian di sini adalah Tauhid Asma wa sifat dan bisa juga masuk di dalamnya tentang masalah rububiyah Allah karena memang rububiyah adalah sifat diantara sifat-sifat Allah di antara nama Allah adalah Rabb yang mengandung sifat rububiyah.
Kenapa di sini beliau tidak terlalu banyak merinci tentang masalah Tauhid Uluhiyah sebabnya karena penyimpangan dan kesalahan yang banyak terjadi saat itu adalah di dalam masalah tauhid al asma wa sifat, adapun di dalam masalah tauhidul uluhiyah belum banyak terjadi penyimpangan sehingga hikmah termasuk kebijaksanaan di dalam menulis kitab seseorang menyebutkan apa yang memang dibutuhkan oleh manusia dan ini bukan hanya beliau saja yang melakukan tapi kalau kita melihat karangan² yang lain yang sezaman juga demikian, yang banyak disampaikan adalah tentang masalah satu atau tema tertentu masalah² tertentu yang memang ditanyakan atau memang banyak penyimpangan di kala itu sehingga perlu banyak menjelaskan, dan kemudian di sini akan memperbanyak merinci tentang masalah tauhid al asma wa sifat.
Ini berbeda dengan mungkin Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang banyak mentarkiz tentang masalah Tauhid Uluhiyah karena memang penyimpanan sudah sedemikian parah didalam masalah Tauhid Al uluhiyah disamping beliau juga punya perhatian tentang masalah tauhid al asmaul sifat, tentang masalah Tauhid rububiyah.
Maka beliau di sini mengatakan,
Allah subhanahu Wa ta’ala adalah khadim, yaitu memiliki sifat al-qidam/ terdahulu.
Tanpa adanya awal.
Dahulu tanpa ada awalnya
Allah subhanahu wa taala senantiasa ad
Tanpa adanya akhir.
Beliau memasukkan dengan ucapan beliau
Bahwasanya Allah subhanahu wa taala ada dan tidak ada awalnya, sejak dahulu ada dan tidak ada awalnya dan Allah subhanahu Wa ta’ala kekal selamanya dan tidak ada akhirnya.
Karena Allah subhanahu Wa ta’ala di antara namaNya sebagaimana dalam Al-Qur’an adalah
Allah subhanahu Wa ta’ala adalah Al awal lagi Al Akhir.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menafsirkan dalam sebuah hadits
Ya Allah Engkau adalah Al awwal maka tidak ada sebelumMu sesuatu.
Disini ada sifat awaliyah bagi Allah, Al Awwal mengandung sifat awaliyah .
Dan Engkau ya Allah adalah Al Akhir
tidak ada setelah-Mu sesuatu
Al Akhir nama Allah yang mengandung sifat Al akhiriyah berbeda dengan makhluk maka dia ada dan sebelumnya tidak ada, Allah subhanahu wa ta’ala yang mengandakan makhluk² tersebut.
[QS Al Insan 1]
Bukankah telah datang kepada manusia waktu ketika sebelumnya dia dalam keadaan
bukan sesuatu yang disebutkan.
Bukan sesuatu yang disebutkan dia tidak ada, kemudian Allah subhanahu Wa ta’ala menciptakan mereka sebelumnya tidak ada kemudian Allah menciptakan mereka.
Itu keadaan makhluk, Allah subhanahu Wa ta’ala Dia-lah Al Akhir, tidak ada setelah Allah sesuatu apapun maksudnya adalah Allah subhanahu Wa ta’ala kekal selamanya, berbeda dengan makhluk yang dia ada kemudian dia meninggal dunia untuk manusia dan jin dibangkitkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, seandainya mereka sebagaimana disebutkan dan sebagaimana kita tahu bahwasanya manusia penduduk Surga akan kekal dan juga penduduk Neraka yang memang > Aqidah ath-Thohawiyah: penduduknya yang akan kekal disana, kekalnya mereka tidak sama dengan kekalnya Allah subhanahu Wa ta’ala, kekalnya mereka adalah dengan Masiyahtullah dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana kekalnya Surga kekalnya Neraka dengan kehendak Allah, bukan dengan sendirinya mereka kekal tapi itu adalah dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.
Ini adalah bagian dari keimanan terhadap nama dan juga sifat Allah subhanahu Wa ta’ala, Al Awwal wal akhir menyadarkan kita semuanya bahwasanya kita dahulu tidak ada kemudian Allah subhanahu Wa ta’ala menghendaki keberadaan kita, menunjukkan tentang lemahnya manusia dan tercelanya sifat sombong kemudian juga segala sesuatu pasti ada ajalnya, kita sendiri dan orang yang bersama kita dan rumah yang kita miliki Dan apa yang ada di sekitar kita ketahuilah bahwasanya itu suatu saat akan menjadi sesuatu yang tidak ada, akan hancur ada satu waktu dimana akan hanya dikatakan ini dulu di sini ada pondok pesantren, ini dulu di sini ada rumah Fulan, dulu di sini ada kampung yang megah tapi itu semua akan ada akhirnya, jangan kita mengira bahwasanya gedung² yang tinggi, kota² yang besar itu akan terus ada selama-lamanya demikian pasti itu Anda akhirnya, Allah subhanahu Wa ta’ala sajalah yang kekal selama-lama.
Ucapan beliau
Qodim, kalau yang dimaksud adalah nama maka ini tidak ada dalilnya yang demikian kalau maksudnya adalah bahwasanya Allah subhanahu Wa ta’ala Dialah yang ada dan tidak ada awalnya, maka cukup kita menggunakan nama Al awwal ini sudah cukup bagi kita untuk menunjukkan bahwasanya Allah subhanahu Wa ta’ala Dialah yang anda tidak ada Al awal sebagaimana firman Allah demikian pula kata (دائم) sudah cukup dengan nama al-akhir,
ya kalau diyakini itu adalah sebuah nama maka ini tidak benar, karena tidak ada namanya namun bisa juga mungkin maksudnya adalah ikhbar, yaitu pengkabaran qodim maksudnya adalah pengkabaran bukan penamaan & kita tahu bahwasanya bab khabar ini lebih luas daripada bab tasniya bab penamaan yang penting tidak ada di situ makna yang negatif atau makna yang kekurangan
Allah subhanahu wa taala Dia lah yang terus ada tanpa ada akhirnya.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]