Halaqah 40: Muhammad adalah Hamba Allah yang Terpilih (Bagian 2)

Halaqah yang ke-40 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang Muhammad adalah hamba Allah yang terpilih bagian 2.

Para Ulama menyebutkan bahwa diantara perkara yang minimal harus ada diketahui oleh seorang muslim ketika mereka ingin mengenal Rasul yang telah diutus kepada mereka adalah mengenal nama beliau, mengenal nama beliau shallallahu 'alaihi wasallam ini adalah sesuatu yang minimal harus diketahui oleh seorang muslim, jadi dalam mengenal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam harus mengetahui tentang nama beliau, haram hukumnya seseorang yang mengaku sebagai seorang muslim sementara dia tidak mengetahui nama Nabi yang telah diutus kepadanya, bagaimana dia bisa mendapatkan petunjuk dan menggali petunjuk dari Rasul yang telah diutus kepadanya kalau dia tidak tahu siapa nama utusan tersebut, apakah ada di sana seorang yang mengaku muslim dan dia tidak mengenal nama nabinya ? kita katakan ada, kita sangat menyayangkan demikian kita berlindung kepada Allah subhanahu wata'ala dari kebodohan, ada disana survei yang yang dilakukan oleh sebagian, Alhamdulillah bukan di Indonesia, mereka sengaja mendatangi daerah² yang agak kedalaman mereka mengaku sebagai muslimin, kemudian masing² ditanya siapa nama Nabi kita? ada di antara mereka mengatakan dengan sangat ragu-ragu, aduh saya lupa apakah dia Abu bakar, atau Muhammad, atau Umar, subhanallah sampai nama nabinya dia tidak mengetahui.

Ketika disuruh untuk membaca Al-fatihah muter² tidak bisa sampai selesai, dan itu ada di antara orang yang mengaku sebagai seorang muslim ternyata dia tidak mengetahui tentang nama Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Ini semakin menjadikan kita semangat untuk berdakwah ternyata disana masih banyak orang-orang yang memerlukan sedikit dari ilmu yang kita miliki, seandainya mereka mengetahui tentang tauhid saja itu sudah masyaallah, mereka mengenal tentang Nabi Muhammad beliau adalah seorang hamba seorang utusan yang diutus oleh Robbul alamin, mereka memahami yang demikian maka subhanallah ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, sehingga jangan kita meremehkan apa yang kita miliki kita berdakwah sesuai dengan kemampuan kita, seandainya kita bisa mengajarkan Al-fatihah saja kepada mereka Maka ini sudah sesuatu yang sangat disyukuri, bisa mengajarkan mereka Al-fatihah mereka bisa menghafal Al-fatihah dari awal sampai akhir sehingga sah shalat mereka dan inilah yang di pesankan oleh Syaikh bin Baz rahimahullah ketika beliau berbicara di dalam risalah beliau, tentang dakwah illallah bahwasanya dakwah di zaman sekarang ini menjadi wajib untuk semuanya sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Jadi dakwah bukan hanya seorang da’i, naam dia berdakwah dengan ilmunya dengan ucapannya tapi juga bisa dilakukan oleh yang lain sesuai dengan kemampuan masing-masing, seorang yang kaya bisa berdakwah dengan harta yang dia memiliki, seorang yang memiliki wewenang / memiliki jabatan dia bisa berdakwah dengan jabatan dan juga kekuasaan yang dia miliki, seorang bapak rumah tangga maka dia bisa berdakwah kepada keluarganya sendiri, seorang ibu juga demikian semakin banyak fitnah & gangguan godaan maka semakin kuat kita dan semakin semangat kita dalam mendakwahkan agama Allah subhanahu wata'ala.

وَإِنَّ مُحَمَّدًا shallallahu 'alaihi wasallam عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى


Diantara keyakinan Ahlussunnah wal jamaah bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah abduhu beliau adalah hamba Allah .

Kita tahu makna hamba yang dimaksud dengan hamba adalah yang menghambakan dirinya kepada Allah, merendahkan dirinya di hadapan Allah, didalam bahasa Arab dikatakan thorikun mu’abbadun jalan yang direndahkan yaitu namanya thorikun muabbad yang diratakan atau yang direndahkan, sehingga hamba Allah adalah hamba yang merendahkan dirinya di hadapan Allah, bukan menyombongkan dirinya di hadapan Allah , ditandai dengan dia beribadah kepada Allah, bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bertawakal hanya kepada Allah menyerahkan seluruh ibadah dengan berbagai jenisnya kepada Allah itulah hamba Allah, dia adalah seorang hamba dan bukan yang disembah, ada Abdun itu adalah yang menghambakan yang menyembah dan disana ada al-ma’bun , ada Al ma’bud ada Al Abdu, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah seperti kita beliau adalah seorang abdun ya seorang hamba Allah, yang menghambakan dirinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka ini sesuatu yang harus diyakini oleh seorang muslim karena di sana ada sebagian orang yang jatuh di dalam ghuluw sehingga meyakini bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam memiliki sifat-sifat Al uluhiyah /memiliki sifat-sifat Dzat yang disembah padahal beliau adalah seorang hamba bukan ma’bud beliau tidak memiliki sifat-sifat uluhiyah ucapan kita

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ


Ini memiliki makna yang dalam berarti kita meyakini bahwasanya beliau hanyalah seorang hamba, kalau beliau adalah seorang hamba maka tidak boleh disembah, tidak boleh di sekutukan bersama Allah tapi beliau adalah seorang hamba seperti kita, Allah subhanahu wata'ala mengatakan,

إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا ۝.

[QS Maryam 93]

Tidaklah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi kecuali akan datang kepada Allah subhanahu wa taala dalam keadaan sebagai seorang hamba.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url