Halaqah 57: Orang-orang Beriman akan Melihat Allah di Akhirat

Halaqah yang ke-57 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang orang-orang beriman akan melihat Allah di akhirat.

Masuk kita dalam pembahasan yg baru yaitu tentang keyakinan Ahlussunnah wal jamaah didalam melihat Allah dihari Kiamat.

Beliau mengatakan rahimahullah setelah berbicara tentang masalah Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, berpindah kepada poin yang lain di antara aqidah² Ahlu Sunnah wal jama’ah yang telah menyelisihi mereka sebagian ahlu bid’ah yaitu tentang masalah Ar Rukyat yang dimaksud adalah rukyatullah atau rukyatulmu’mininali rabbihim liyaumil qiyamah/ melihatnya orang-orang yang beriman kepada Rabb mereka dihari kiamat, bagaimana keyakinan Ahlussunnah wal jamaah yang berdasarkan Al-Qur’an dan juga Sunnah dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum, beliau mengatakan,

والرُّؤْيةُ حقٌّ لأهلِ الجَنَّةِ، بِغَيْرِ إحَاطَةٍ ولا كَيْفيَّةٍ،


Dan melihat maksudnya adalah melihatnya orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah حقٌّ sesuatu yang benar itu akan terjadi bukan sesuatu yang batil bukan sesuatu yang meragukan itu adalah sebuah keyakinan kebenaran yang akan terjadi,

لأهلِ الجَنَّةِ،


untuk para penduduk surga dan tidak masuk ke dalam surga kecuali orang-orang yang beriman dan penduduk surga mereka adalah orang-orang yang beriman disini bukan hanya umatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tapi mereka adalah untuk seluruh penduduk surga termasuk penduduk surga yang mereka adalah umat-umat terdahulu, umat para Nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam jadi melihat Allah subhanahu wa ta’ala bukan hanya umatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tapi juga orang-orang yang beriman sebelum kita sebelum umat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka mereka juga akan masuk dalam hal ini yaitu mereka akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala

لأهلِ الجَنَّةِ،


untuk penduduk surga.

Dan diantara dalilnya adalah Firman Allah subhanahu wa taala

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ


Dan wajah² dihari tersebut dalam keadaan berseri kepada Rabb mereka, mereka memandang.

Yang dimaksud disini adalah wajah para penduduk Surga, mereka dalam keadaan berseri-seri memandang kepada Allah subhanahu wa ta’ala

حقٌّ لأهلِ الجَنَّةِ،


Ini adalah sebuah kebenaran untuk para penduduk Surga.

Beliau mengatakan,

بِغَيْرِ إحَاطَةٍ ولا كَيْفيَّةٍ،


Tanpa إحَاطَةٍ memandang tanpa meliputi karena Allah subhanahu wa ta’ala adalah Yang maha besar, sementara kita adalah makhluk yang sangat lemah yang sangat kecil di hadapan Allah, kita beriman bahwasanya kita akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala tapi bukan berarti kita meliputi, karena ini sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh makhluk

وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًا


Dan mereka tidak mungkin meliputi Allah subhanahu wa ta’ala secara keilmuan secara ilmu dan Allah mengatakan

لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ


Pandangan² tidak mungkin men-idrak/ meliputi Allah subhanahu wa ta’ala.

Kita akan memandang kita akan melihat tapi tidak mungkin kita meliputi semuanya, kita terlalu kecil untuk yang demikian, terlalu lemah untuk melakukan yang demikia

لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ


Allah subhanahu wa ta’ala tidak mungkin di-idrak oleh pandangan², sehingga beliau mengatakan

بغير إحاطة


Melihat penduduk surga kepada Allah subhanahu wa ta’ala tanpa meliputi semuanya, jadi Tidak semua orang yang memandang itu bisa meliputi semuanya, kita bisa memandang rumah dari depan kita memandang rumah tapi memandang bukan berarti kita bisa bisa melihat secara keseluruhan yang ada di belakang sana, bagaimana kita melihat yang ada disebelah kanan & kiri bagaimana kita bisa melihatnya.

Jadi disana ada ruqyah dan di sana ada indroq, rukyat memandang dan disana ada indraq yaitu meliputi, didalam sebuah ayat ketika Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang Musa dan juga kaumnya ketika dikejar oleh Firaun dan juga bala tentaranya kemudian mereka sudah sampai di Pantai ketika mereka melihat ke belakang ternyata mereka sudah melihat Fir’aun dan juga bala tentaranya,

Allah mengatakan

فَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰٓى اِنَّا لَمُدۡرَكُوۡنَۚ‏

[QS Asy syu’ara 61]

Ketika dua kelompok ini sudah saling melihat satu dengan yang berarti ini bukan jarak yang jauh lagi sudah saling melihat satu dengan yang lain

قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰٓى اِنَّا لَمُدۡرَكُوۡنَ


Berkata para pengikut Musa sesungguhnya kita sudah mau disusul.

Mereka sudah akan sampai kepada kita. ini menunjukkan bahwasanya Ar Rukyat bukan berarti men-idrak, bisa melihat bukan berarti bisa disusun di sana ada ruqyah di sana ada idraq , sekedar hanya melihat belum tentu bisa meliputi sebagian ahlu bid’ah ada yang mengingkari rukyatullah subhanahu wata'ala dengan mendatangkan firman Allah subhanahu wa ta’ala

لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ


Allah subhanahu wa ta’ala tidak di-idrak oleh pandangan².

Mereka memahami tidak di idraq berarti tidak bisa dilihat ini istidlal yang khoto beda idraq dengan Rukyat , idraq artinya adalah meliputi /melihat secara keseluruhan, maka benar kita tidak akan mungkin meliputi dan melihat secara keseluruhan tapi kita bisa melihat bagaimana yang Allah kabarkan sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam jadi yang dinafikan disini adalah idraq bukan rukyat dan yang mengingkari rukyatullah subhanahu wata'ala diantaranya adalah Mua’tazilah Jahmiyyah, mereka mengingkari rukyatullah,

بغير إحاطة


Tanpa adanya ihtho,
Itu yg pertama berdasarkan firman Allah tadi, kemudian,

ولا كيفية


Dan juga tanpa kaifiyah,

Itu maksudnya tanpa kita mengetahui bagaimana kaifiyahnya sebagainya ucapan sebelumnya ketika pembahasan kalamullah, Kalamullah itu dimulai dari Allah tanpa kaifiyah maksudnya kita tidak mengetahui kaifiyah demikian pula melihat Allah,kita harus meyakini itu adalah Haq sebagaimana dalam ayat dan hadits
dan jangan kita mengatakan bagaimana, kemudian masukkan akal dalam masalah ini dan mengatakan kalau kita melihat oh berarti Allah berada di arah Allah memiliki arah sementara Allah kan tidak di atas tidak dibawah dikiri, Allah tidak memiliki arah, kalau kita mengatakan kita melihat Allah berarti Allah memiliki arah, oleh karena itu mereka berdasarkan dalil akal ini juga akhirnya mengingkari rukyatullah, karena kalau kita menetapkan rukyatullah berarti kita menetapkan arah bagi Allah dan ini adalah menyerupakan Allah’ dengan makhluk.

Darimana penafian ini karena di sini sudah mulai dia memberikan kaifiyah, kita akan melihat Allah tentang kaifiyah Allah subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Lebih tau karena Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu, Allah mampu untuk menjadikan kita bisa melihat Allah di Yaumal Qiyamah bagaimana datangnya maka kita yakini kita akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala meskipun kita belum mengetahui tentang kaifiyyahnya tapi kita yakin akan ada disana kaifiyahnya.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url