Halaqah 37: Semua Makhluk Berada di Bawah Kehendak Allah antara Karunia dan Keadilan Allah
Halaqah yang ke-37 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah adalah tentang semua makhluk berada di bawah kehendak Allah antara karunia dan keadilan Allah.
Beliau mengatakan rahimahullah,
Dan semua mereka ini /makhluk Allah subhanahu wa ta’ala
Mereka bulak balik didalam/dibawah kehendak Allah
Antara anugerah Allah dan juga keadilan.
Ini menguatkan apa beliau sampaikan sebelumnya
Jadi karunia atau keadilan tidak ada kedholiman disana.
Maka semuanya yg mengarungi kehidupan ini adalah dibawah kehendak Allah
Antara karunia Allah dan juga keadilan, tidak ada yang ketiga apa yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari maka itu kemungkinan yang pertama adalah karunia dari Allah atau kemungkinan yang kedua adalah keadilan dari Allah.
Kalau kita mendapatkan rezeki itu adalah karunia dan anugerah dari Allah kalau kita melihat dosa-dosa Kita sebenarnya kita ini berhak untuk tidak dikasih oleh Allah karena sebab dosa kalian tapi Allah berikan kita makanya adalah karunia dan juga anugerah dari Allah, kalau kita mendapatkan musibah memang kita berhak untuk mendapatkan musibah tadi karena memang dosa kita ini adalah keadilan dari Allah, maka berarti kita ini hidup di bawah kehendak Allah antara anugerah Allah dan juga antara keadilan Allah,
tidak ada yang bisa menentang terhadap takdir Allah,
tidak ada yang bisa menolak.
Apa yang sudah Allah takdirkan apa yang sudah Allah tulis maka siapa yang bisa menentang apa yang sudah Allah putuskan, Allah memutuskan terjadi musibah maka terjadi, tidak ada yang bisa menolak,
apakah Nabi bisa menolak?
apakah para malaikat mereka bisa menolak apa yang Allah kehendaki?
Apalagi kita tidak ada yang bisa menolak terhadap apa yang sudah Allah putuskan maka mintalah kepada Allah takdir yang baik
Tudak ada yang bisa menolak apa yang Allah putuskan.
Ini juga sebenarnya menguatkan juga apa yang sudah disebutkan sebelumnya tentang bahwasanya Masyiatullah ini adalah tanfudhu, kehendak Allah itu adalah pasti terlaksana.
Tidak ada yang bisa menolak /mengomentari apa yang sudah Allah putuskan, berupa hukum-hukum termasuk diantaranya adalah hukum-hukum kauni.
Demikian pula hukum-hukum syar’i, hukum-hukum kauni tidak ada yang bisa menolak apa yang sudah Allah tentukan, hukum syar’i maka apa yang sudah Allah putuskan kalau Allah sudah menentukan bahwasanya orang yang membunuh dengan sengaja maka dia di qishas, orang yang Ya sudah mukhson/ pernah menikah kemudian dia berzina maka dia harus di razam, tidak boleh ada yang menentang apa yang sudah Allah tentukan, kewajiban kita adalah sami’na wa atho’na,
Allah mengatakan,
[QS Ar Rad 41]
Tidak ada yang bisa menolak / menentang terhadap hukum Allah dan Allah subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha cepat hisabnya.
Dan Allah mengatakan,
[QS Al Baqarah 117]
Tidak ada yang bisa menolak apa yang sudah Allah kehendaki.
Dan Allah mengatakan,
[QS Fatir 2]
Apa yang Allah buka bagi manusia berupa rahmat Allah, maka tidak ada yang bisa menahannya, kalau Allah sudah ingin melimpahkan rezekinya, melimpahkan rahmatnya tidak ada yang bisa menahan dan apa yang Allah tahan maka tidak ada yang bisa melepaskannya. Kalau sudah Allah tahan dari seseorang rezeki siapa yang bisa menyampaikan rezeki tersebut kepada orang tersebut.
Dialah yang Maha perkasa lagi Maha Bijaksana.
Didalam dzikir yang kita baca setelah shalat
Tidak ada yang bisa menahan apa yang engkau berikan Ya Allah dan tidak ada yang bisa memberi apa yang engkau tahan.
Ini sebenarnya menguatkan apa yang disampaikan di sini bahwasanya tidak ada yang bisa menolak apa yang Allah sudah putuskan.
Tidak ada yang bisa mengalahkan perkara Allah.
Kalau Allah sudah memutuskan sesuatu enggak ada yang bisa melawan/ mengalahkan Allah.
[QS Yusuf 21]
Lihat bagaimana Allah subhanahu wa taala untuk mengangkat Yusuf alaihissalam & menjadikan atau memberikan kepada beliau kekuasaan, mengangkat beliau dengan ilmu yang belum memiliki & menjadikan beliau sebagai seorang yang memiliki atau diberikan wewenang meskipun saudara²nya dengan berbagai upaya Mereka ingin menyingkirkan Yusuf alaihissalam dengan cara mereka, mengajak Yusuf untuk berburu kemudian bohong kepada bapak mereka bahwasanya Yusuf telah dimakan oleh serigala, kemudian mereka lempar ke dalam semacam sumur dan ternyata Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki lain, ya bagaimana Allah subhanahu wa taala menyelamatkan Nabi Yusuf alaihissalam ada kafilah yang mereka lewat kemudian mereka ingin mengambil air ternyata Mereka melihat di situ ada seorang anak kemudian dibawa oleh mereka ke Mesir dan dijual dengan harga yang sangat murah dan ditakdirkan oleh Allah menjadi seorang yang tinggal di sebuah keluarga di antara pembesar negara, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala di dalam surat Yusuf terjadi peristiwa satu demi satu mimpi dan juga kemudian godaan dari wanita kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada beliau kemampuan untuk mengetahui mimpi dan di situ bertemu dengan dua orang didalam penjara bertemu dengan dua orang yang menceritakan mimpinya kemudian ketika salah seorang di antara keduanya keluar dan terjadi peristiwa rajanya bermimpi kemudian ingin tahu takwilnya dan orang yang dipenjara tadi ingat bahwasanya Dia pernah bertemu di penjara dengan seseorang yang dia sebenarnya berpesan tapi dia lupa tidak menyampaikan itu kepada tuannya, saat itu dia ingat Saya punya teman nih penjara yang dia pintar untuk menta’wil mimpi sampai akhirnya Nabi Yusuf alaihissalam menta’wil kemudian dipanggil saja bahkan jadi orang dekatnya raja tersebut.
Allah subhanahu wa ta’ala Dialah yang menang urusanNya tidak ada yang bisa mengalahkan, orang pada hasad orang benci kepada kita orang memusuhi kita tapi
Allah yang senantiasa menang ,
Oleh karena itu seorang hamba Allah bertawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yakin kepada Allah & yakin bahwasanya Allah tidak ada yang mengalahkannya didalam seluruh keputusan Allah subhanahu wa ta’ala.
***
[Materi halaqah diambil dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al Aqidah Ath Thahawiyah yang ditulis oleh Al Imam Ath Thahawi rahimahullah]